Gaya Hidup

Tren Belanja Baju Lebaran 2026 Lesu, Desainer Mulai Baca Perubahan Selera

liputanmasa – Ada yang terasa berbeda menjelang Lebaran tahun ini. Bukan soal suasana—tetap ramai, tetap di nanti—tapi soal satu hal yang biasanya jadi ritual: belanja baju baru.

Tahun ini, geliatnya tidak sekuat dulu.

Beberapa desainer mulai merasakan itu. Tidak langsung sepi, tapi ada penurunan. Pelan, tapi terasa. Orang tetap belanja, iya. Tapi caranya berubah.

Tidak lagi seperti dulu yang “harus baru”.

Ada yang memilih pakai koleksi lama. Ada juga yang beli, tapi lebih selektif. Tidak impulsif. Di pikir dulu—perlu atau tidak.

Dan dari situ, pola mulai kelihatan.

Menurut sejumlah desainer, konsumen sekarang cenderung lebih hati-hati. Bukan cuma soal harga, tapi juga soal fungsi. Baju yang di beli harus bisa di pakai lagi, tidak hanya untuk satu momen Lebaran.

Jadi bukan sekadar tampil beda satu hari, lalu selesai.

Perubahan ini juga terasa di desain. Permintaan ke arah yang lebih simpel, lebih fleksibel, tidak terlalu “khusus Lebaran”. Warna lebih netral, model lebih bisa di pakai di berbagai kesempatan.

Ada pergeseran, jelas.

Kalau dulu momen Lebaran identik dengan lonjakan besar di penjualan fashion, sekarang tidak selalu begitu. Ada penyesuaian. Baik dari sisi pembeli, maupun dari pelaku industri sendiri.

Dan mungkin ini bukan soal penurunan semata.

Lebih ke perubahan cara orang melihat kebutuhan. Lebaran tetap penting, tetap dirayakan. Tapi tidak harus selalu di wujudkan lewat baju baru.

Atau setidaknya, tidak seperti dulu lagi.

Bagi desainer, ini jadi tantangan baru. Harus membaca ulang pasar. Menyesuaikan pendekatan. Karena kalau tetap memakai pola lama, bisa jadi tidak lagi relevan.

Trennya sudah bergeser. Tidak drastis, tapi cukup untuk mengubah arah.