Humaniora

Festival Rakik-Rakik Maninjau Digelar Lagi, Bukan Sekadar Acara—Tapi Cara Warga Bangkit

liputanmasa – Di Maninjau, suasana itu pelan-pelan berubah. Dari yang sebelumnya muram, kini mulai terdengar lagi suara musik, tawa, dan keramaian. Tidak sepenuhnya pulih, tentu saja. Tapi ada tanda—hidup bergerak lagi.

Festival Rakik-Rakik kembali di gelar.

Buat sebagian orang, ini mungkin terlihat seperti acara budaya biasa. Panggung, pertunjukan, orang berkumpul. Tapi kalau di lihat lebih dekat, ada konteks yang lebih dalam. Ini bukan sekadar festival. Ini bagian dari proses pulih—secara sosial, bahkan emosional.

Setelah bencana yang sempat mengguncang kawasan itu, banyak hal berubah. Tidak hanya fisik. Ada rasa kehilangan, ada trauma yang tidak selalu terlihat. Dan di situ, ruang seperti ini jadi penting.

Festival ini melibatkan banyak pihak. Seniman lokal, warga, komunitas. Tidak ada jarak yang kaku antara penampil dan penonton. Semua terlibat, dengan cara masing-masing.

Ada pertunjukan budaya. Ada aktivitas yang mengundang orang untuk ikut serta, bukan hanya menonton. Dan dari situ, perlahan muncul lagi rasa kebersamaan yang mungkin sempat pudar.

Pemerintah daerah juga ikut mendorong. Mereka melihat pendekatan budaya ini bukan sekadar pelengkap, tapi bagian dari strategi pemulihan. Karena membangun ulang tidak selalu berarti mendirikan bangunan. Kadang, yang perlu di bangun kembali justru rasa—rasa aman, rasa terhubung.

Dan itu tidak bisa di paksakan. Harus pelan-pelan.

Di sisi lain, festival ini juga membawa dampak yang lebih konkret. Aktivitas ekonomi mulai bergerak. Pedagang lokal kembali membuka lapak. Pengunjung datang, meski belum sebanyak dulu. Tapi cukup untuk memberi napas.

Hal-hal kecil, tapi berarti.

Festival Rakik-Rakik jadi semacam pengingat—bahwa pemulihan tidak selalu berbentuk beton dan aspal. Ada cara lain. Lewat musik, lewat budaya, lewat pertemuan orang-orang yang sama-sama mencoba bangkit.

Dan mungkin, dari situ semuanya di mulai lagi. Perlahan, tapi nyata.