Peristiwa

Pembatasan di Bantargebang Bikin Sampah Menumpuk di Pasar Minggu, Pengangkutan Tersendat

liputanmasa.com – Masalahnya sebenarnya sederhana: sampah tidak bergerak.

Biasanya, dari wilayah seperti Pasar Minggu, sampah di angkut lalu di bawa ke TPST Bantargebang. Rutin. Terjadwal. Tidak terlalu terasa.

Tapi begitu ada pembatasan operasional di sana, alurnya langsung terganggu.

Dan efeknya cepat.

Di Pasar Minggu, tumpukan mulai terlihat. Tidak hanya di satu titik. Beberapa tempat penampungan sementara mulai penuh. Bahkan ada yang meluber.

Karena memang tidak terangkut.

Volume sampah terus bertambah. Hari ke hari. Sementara pengirimannya tersendat di tengah jalan. Ini seperti keran yang terus menyala, tapi salurannya menyempit.

Akhirnya ya menumpuk.

Pembatasan di Bantargebang sendiri di sebut karena alasan operasional. Ada kondisi di lokasi yang membuat aktivitas tidak bisa berjalan seperti biasa. Tapi dampaknya tidak berhenti di sana.

Wilayah lain ikut kena.

Di lapangan, petugas kebersihan mencoba menyesuaikan. Jadwal di ubah, ritme kerja di atur ulang. Tapi kapasitas tetap terbatas. Tidak semua bisa langsung di atasi.

Dan sementara itu, sampah terus datang.

Kondisi ini mulai memunculkan kekhawatiran. Bukan hanya soal pemandangan yang tidak enak di lihat, tapi juga soal kesehatan. Sampah yang menumpuk terlalu lama bisa jadi sumber masalah lain.

Bau, lalat, bahkan risiko penyakit.

Koordinasi antara pihak terkait juga sedang berjalan. Pengelola Bantargebang, dinas kebersihan, semua mencoba mencari celah agar alur pengangkutan bisa kembali normal.

Meski tidak instan.

Di sisi lain, masyarakat juga di ingatkan—meski ini sering terdengar berulang—untuk lebih bijak mengelola sampah. Setidaknya selama kondisi belum sepenuhnya pulih.

Karena dalam situasi seperti ini, setiap tambahan sampah… terasa dampaknya.

Untuk sekarang, penanganan masih berlangsung. Belum selesai.

Dan sampai alurnya benar-benar kembali lancar, tumpukan itu masih jadi bagian dari pemandangan sehari-hari.