Mega Prison 5.000 Kapasitas: Solusi atau Sekadar Tempat Baru?
liputanmasa.com —lewat Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas)—sedang menyiapkan sesuatu yang besar. Secara harfiah. Sebuah “mega prison”, penjara raksasa dengan daya tampung sekitar 5.000 orang.
Ya, 5.000 warga binaan dalam satu kompleks. Selevel stadion, tapi buat narapidana.
Wacana ini mencuat sebagai reaksi atas situasi lama yang tak kunjung tuntas: lapas penuh sesak, petugas kewalahan, dan sistem pembinaan yang kadang hanya jadi slogan di atas kertas. Banyak lapas di Indonesia, nyatanya, sudah lama bekerja di luar kapasitas.
Mega prison ini nantinya bukan sekadar tempat mengurung. Setidaknya begitu kata pejabat Imipas. Di atas kertas, konsepnya adalah pemasyarakatan terpadu: pengamanan modern, pelatihan keterampilan, program rehabilitasi, sampai layanan dasar. Sebuah ekosistem pembinaan, bukan cuma bangunan dengan jeruji.
Apakah ini akan efektif? Belum tentu. Tapi yang jelas, pemerintah sedang mencari jalan keluar jangka panjang dari benang kusut pemasyarakatan nasional. Lokasi dan waktu pembangunan belum final, masih dalam tahap kajian. Yang pasti, proyek ini akan butuh lahan luas dan analisis dampak yang tak bisa main-main. Sebab, membangun penjara raksasa bukan cuma soal teknis—tapi juga sosial.
Apa kata warga sekitar? Apakah keberadaan mega prison bisa di terima di tengah pemukiman? Apakah keamanan cukup terjamin? Pertanyaan-pertanyaan itu sudah mulai berseliweran.
Di satu sisi, langkah ini bisa di lihat sebagai bentuk reformasi. Paling tidak, niat untuk menyusun ulang sistem yang selama ini terlalu penuh, terlalu sesak, dan terlalu mudah meledak.
Tapi di sisi lain, sebagian orang melihatnya skeptis. Penjara baru dengan kapasitas besar bukan berarti masalah selesai. Tanpa perubahan dalam pendekatan hukum, keadilan restoratif, atau sistem pidana narkotika misalnya, penjara besar hanya akan jadi tempat penampungan massal—bukan tempat pembinaan.
Pemerintah menjanjikan semuanya berjalan sesuai regulasi dan menjunjung hak asasi. Tapi sejarah selalu mengingatkan: bukan soal membangun apa, tapi bagaimana itu di kelola setelah di bangun.
Mega prison bisa jadi momentum perbaikan. Tapi juga bisa menjadi tumpukan besi dan beton baru, jika tak di barengi niat menyentuh akar persoalan.
