Peristiwa

Longsor Putus Total Jalur Jayapura–Wamena, Papua Tercekik di Tengah Hujan dan Tanah Labil

liputanmasa.com – Jalur darat Jayapura–Wamena kembali lumpuh. Bukan karena kerusuhan, bukan karena blokade, tapi kali ini murni karena alam bicara keras. Tanah longsor menutup total akses utama Trans-Papua, tepatnya di wilayah Yalimo, Minggu (8/2).

Bayangkan saja: bukan satu atau dua titik. Menurut data dari Polda Papua, setidaknya enam lokasi tertimbun material longsor. Jalanan terjal seperti Tanjakan Area Camp Pemilu dan Tanjakan Yahuli lenyap di bawah tanah. Camp 80, Camp 90, Kampung Wara—semuanya ikut terdampak. Bahkan satu jembatan kecil di kabarkan hanyut. Hilang terbawa arus.

Longsor ini bukan kejadian tiba-tiba. Hujan deras mengguyur semalaman, dari Sabtu hingga Minggu pagi. Hujan yang turun tanpa jeda itu menggerus tanah di lereng-lereng jalan. Lalu menyeretnya turun, brutal dan nyaris tanpa peringatan.

Akibatnya? Puluhan kendaraan terjebak. Diam di tempat. Ada yang tertimbun. Ada yang nyaris terguling. Satu truk enam roda bahkan di kabarkan sempat terseret ke sungai. Untung saja sang sopir dan kernet berhasil menyelamatkan diri. Untuk sekarang, belum ada laporan korban jiwa. Tapi kerugian material? Di pastikan tak sedikit. Masih dihitung.

Polres Yalimo langsung turun tangan. Di bantu instansi terkait dan perusahaan jalan, mereka mulai membersihkan material yang menutup badan jalan. Tapi ini bukan kerja cepat. Tanah masih labil. Langit belum benar-benar cerah. Dan setiap sekop yang menggali, harus di hitung risikonya.

Petugas juga mengimbau warga untuk tidak coba-coba melintas dulu. Jalur ini bukan cuma tertutup, tapi berbahaya. Satuan Lalu Lintas berjaga di titik-titik aman, mengarahkan kendaraan putar balik atau menunggu. Mereka berjaga bukan cuma soal lalu lintas, tapi soal nyawa.

Longsor ini, sekali lagi, menampar realitas keras: betapa rapuhnya konektivitas darat di Papua. Jalan Trans-Papua yang selama ini di gadang-gadang sebagai nadi pembangunan, ternyata bisa terputus hanya dalam semalam hujan.

Alam di sana tidak mudah di jinakkan. Perbukitan curam. Tanah rentan longsor. Dan ketika jalur darat putus, pilihan lain tak banyak. Ini bukan sekadar soal akses logistik atau distribusi barang. Ini soal isolasi. Soal keterhubungan antarmanusia.

Peristiwa ini menyisakan satu catatan besar: membangun jalan di Papua bukan cuma soal membentangkan aspal. Tapi juga membaca lanskapnya. Menakar cuaca. Merancang mitigasi jangka panjang. Karena jalur seperti Jayapura–Wamena ini bukan jalan biasa. Ini jalur hidup. Jalur harapan. Dan ketika putus, bukan cuma kendaraan yang tertahan—tapi denyut daerah pun ikut tersendat.