Humaniora

Sekolah Rusak di Jabar Masih Banyak, Legislator Desak Pemerintah Jangan Tutup Mata

liputanmasa.com – Masih ada sekolah yang atapnya bolong.
Masih ada ruang kelas yang retaknya bisa bikin orang tua deg-degan tiap anaknya berangkat pagi.
Dan ini bukan cuma satu dua.

Seorang legislator di DPRD Jawa Barat angkat bicara. Suaranya tidak tinggi, tapi pesannya jelas: pemerintah daerah harus bergerak lebih cepat. Terlalu banyak sekolah yang kondisinya sudah tak layak, tapi tetap di pakai. Tetap di paksa di gunakan.

“Apa harus tunggu roboh dulu?” katanya, saat di mintai keterangan beberapa waktu lalu.

Ia menyoroti bahwa masalah ini bukan hal baru. Tapi yang bikin jengkel, perbaikannya sering kali tersendat. Dana minim, perencanaan lambat, atau malah karena laporan kondisi sekolah yang tidak pernah benar-benar di perbarui.

Padahal, kata dia, ruang belajar itu bukan sekadar bangunan. Itu tempat anak-anak bertumbuh, tempat guru mengajar dengan aman. Kalau atapnya bocor, kalau lantainya ambles, kalau dindingnya nyaris jebol — apa yang bisa di harapkan dari kualitas belajar?

Ia juga dorong agar pendataan kondisi sekolah di perjelas dan diperinci. Jangan tunggu survei lima tahunan yang datangnya telat. Harus ada data real-time. Daftar sekolah yang rusak ringan, rusak sedang, rusak berat. Tanpa itu, perbaikan hanya akan jadi tambal sulam tanpa arah.

Penganggaran pun ia soroti. Jangan habiskan dana di proyek yang mentereng tapi abai soal bangunan sekolah yang sudah reot. Renovasi harus proporsional. Dan pengawasannya jangan main-main — ini soal keselamatan anak.

“Yang kita bicarakan ini fasilitas publik. Vital. Menyangkut masa depan.”

Ia tegas. Kalau tidak segera di tangani, bukan hanya siswa yang di rugikan, tapi sistem pendidikan itu sendiri yang bakal kena imbas. Karena belajar di ruang nyaman dan aman itu hak dasar, bukan kemewahan.