Rosatom Godok Ide “PLTN Bulan” – Sumber Listrik Permanen untuk Koloni Luar Angkasa?
liputanmasa – Gedung berkaca di Moskow kembali melempar wacana yang terdengar campur aduk antara fiksi ilmiah dan strategi energi: Rosatom sedang menimbang proyek pembangkit listrik tenaga nuklir… di Bulan.
Mengapa nuklir, mengapa Bulan?
Panel surya memang murah, tapi siang–malam di permukaan satelit Bumi itu berganti tiap 14 hari. Tak ideal untuk laboratorium riset, tambang helium-3, atau habitat astronot yang membutuhkan listrik konstan. Reaktor kecil modular—versi ringkas dari PLTN darat—di pilih Rosatom sebagai ‘generator abadi’, cukup kuat menghidupkan life-support, komunikasi, dan mungkin pabrik sintering beton bulan.
Tahapnya masih embrio.
Insinyur baru menumpuk kertas studi: temperatur kawah, radiasi kosmik, logistik antar-planet. Tantangan terberat justru bukan core reaktor, melainkan cara menerbangkan komponen berat dalam satu roket, lalu merakitnya di gravitasi seperenam Bumi tanpa montir berpengalaman.
Urusan politik & hukum ikut menempel.
Perjanjian Luar Angkasa 1967 melarang senjata nuklir di orbit, tapi soal reaktor sipil di permukaan Bulan masih abu-abu. Proyek semacam ini hampir pasti mengundang debat di PBB—apakah reaktor bisa di pakai ganda untuk militer? Bagaimana prosedur pembuangan limbah? Siapa bertanggung jawab bila terjadi kebocoran di kawah selatan?
Bukan ide tunggal.
NASA sedang membidik reaktor mikro Fission Surface Power untuk koloni Artemis; China menyelipkan konsep serupa dalam roadmap “Chang’e”. Singkatnya, kalau bukan Rosatom yang menyalakan lampu pertama di Bulan, mungkin agensi lain melakukannya lebih dulu.
Masih jauh dari peluncuran, tapi diskusi ini menegaskan satu hal: perlombaan energi luar angkasa kian serius. Kalau rencana menjadi nyata, kata “off-grid” akan punya makna baru—jaringan listrik berada 384.000 kilometer dari rumah.
