Humaniora

Perjuangan Masjid BJTB Hadapi Premanisme di Kolong Tol Buah Batu

liputanmasa – Di bawah jalur Tol Buah Batu, Bandung, ada sebuah masjid yang berdiri cukup sederhana. Namanya Masjid BJTB. Letaknya memang tidak biasa—tepat di kolong tol, di tengah lalu lintas kendaraan yang hampir tidak pernah benar-benar sepi.

Bagi warga sekitar, tempat ini lebih dari sekadar bangunan ibadah. Masjid itu juga jadi titik berkumpul. Tempat orang salat, tentu saja, tapi juga tempat kegiatan warga, pengajian, kadang sekadar ruang untuk saling bertemu.

Namun menjaga aktivitas seperti itu tidak selalu mudah.

Pengelola masjid mengaku sempat menghadapi persoalan keamanan di lingkungan sekitar. Salah satu yang di sebut cukup mengganggu adalah dugaan praktik premanisme di area sekitar kolong tol tersebut.

Gangguan itu, menurut pengurus, datang dari oknum tertentu yang berada di sekitar kawasan. Situasi seperti ini membuat aktivitas di masjid kadang tidak berjalan senyaman yang di harapkan.

Padahal masjid itu selama ini cukup aktif.

Masjid BJTB sering di gunakan untuk berbagai kegiatan sosial maupun keagamaan. Warga datang untuk beribadah, mengikuti kegiatan komunitas, atau sekadar berkumpul setelah aktivitas sehari-hari.

Karena itu, ketika muncul gangguan di sekitar lingkungan masjid, pengurus merasa perlu mengambil langkah.

Upaya yang di lakukan tidak hanya sebatas menjaga aktivitas internal masjid. Pengelola juga mencoba menjalin komunikasi dengan warga sekitar, termasuk berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait agar situasi lingkungan bisa lebih kondusif.

Pendekatannya sederhana: membangun komunikasi.

Pengurus berharap lingkungan di sekitar masjid bisa kembali terasa aman, sehingga kegiatan ibadah maupun aktivitas sosial yang biasa di gelar di sana dapat berjalan tanpa gangguan.

Sebab bagi banyak warga, Masjid BJTB bukan hanya tempat salat. Tempat itu juga menjadi ruang bersama—ruang yang menghubungkan masyarakat di sekitar kolong Tol Buah Batu.

Dan sampai sekarang, meskipun menghadapi berbagai tantangan di lapangan, pengurus masjid masih berupaya mempertahankan fungsi itu. Tetap membuka ruang bagi masyarakat, tetap menjaga aktivitas berjalan. Meski tidak selalu mudah.