Gaya Hidup

Menbud Bawa Bantuan ke Aceh Tamiang Usai Banjir, Warga Pelan-Pelan Bangkit

liputanmasa – Di Aceh Tamiang, suasana pagi itu masih meninggalkan bau lumpur yang belum sempat kering. Ketika Menteri Kebudayaan datang membawa bantuan, sebagian warga sudah berkumpul, sebagian lagi masih sibuk membersihkan halaman rumah yang berubah warna jadi cokelat tua.

Tidak ada acara besar. Hanya tenda sederhana dan meja tempat bantuan di turunkan satu per satu—beras, paket kebutuhan harian, perlengkapan dasar yang biasanya baru terasa betapa pentingnya setelah rumah terendam air. Menteri menyerahkannya langsung, sambil sesekali berhenti mendengar cerita warga. Cerita tentang air yang naik cepat. Tentang bagaimana mereka harus keluar rumah dalam keadaan belum sempat menyelamatkan apa pun.

Bantuan ini, katanya, bentuk kehadiran pemerintah. Tidak menyelesaikan semuanya memang, tapi setidaknya membantu mereka bertahan beberapa hari ke depan. Nada bicaranya datar, tapi cukup jelas menunjukkan kekhawatiran yang memang wajar di situasi seperti ini.

Banjir yang menghantam kawasan itu sebelumnya membuat banyak rumah rusak ringan—beberapa malah parah. Akses makanan sempat macet, aktivitas warga tersendat. Di sepanjang jalan yang di lalui rombongan menteri, terlihat kursi-kursi dan kasur di jemur, menandakan pemiliknya masih berusaha menyelamatkan apa yang bisa di selamatkan.

Sementara itu, pemerintah daerah dan relawan terus bekerja. Ada yang menyedot air, ada yang membersihkan puing, ada yang mengecek kondisi warga satu per satu. Ritmenya acak, tapi bergerak.

Kunjungan Menbud seolah menambah energi bagi warga yang masih lelah. Tidak ada pidato panjang, tidak juga janji-janji yang muluk. Hanya bantuan yang di berikan dan dorongan kecil agar warga tetap bertahan. Pemulihan masih panjang, tapi setidaknya hari itu ada harapan kecil yang turun bersama mobil-mobil rombongan.