Gaya Hidup

Konsep Kreasi Jadi Cara Baru Kurangi Ketergantungan Media Sosial, Psikolog Soroti Kesehatan Mental

liputanmasa – Coba hitung, berapa kali sehari jari kita otomatis membuka media sosial tanpa benar-benar sadar kenapa. Bangun tidur, cek notifikasi. Istirahat sebentar, buka lagi. Malam sebelum tidur, scroll tanpa ujung.

Kebiasaan itu pelan-pelan jadi refleks.

Melihat pola itu, sejumlah psikolog mulai menawarkan pendekatan yang terdengar sederhana, tapi cukup menggelitik: konsep “kreasi”. Intinya bukan melarang media sosial, bukan juga menyuruh orang hidup tanpa gawai. Tapi menggeser fokus. Dari konsumsi ke penciptaan.

Menurut mereka, ketergantungan media sosial bukan cuma soal durasi layar. Ada dampak mental yang mengintai ketika seseorang terus-menerus terpapar konten digital. Perbandingan sosial, tekanan untuk tampil sempurna, notifikasi yang tak berhenti—semuanya bisa menggerus kesejahteraan emosional tanpa terasa.

Dan di situlah konsep kreasi masuk.

Alih-alih terus menjadi penonton, individu di ajak menjadi pencipta. Menulis. Menggambar. Membuat kerajinan tangan. Memasak dengan resep baru. Bahkan sekadar merapikan tanaman di rumah dan mendokumentasikan prosesnya untuk diri sendiri, bukan untuk validasi digital.

Aktivitas kreatif, kata para psikolog, memberi ruang bagi otak untuk bekerja dengan cara berbeda. Ada proses. Ada jeda. Ada kepuasan yang tidak bergantung pada jumlah “like” atau komentar.

Bukan berarti media sosial sepenuhnya buruk. Itu juga di tegaskan. Platform digital tetap punya fungsi—untuk komunikasi, informasi, bahkan peluang ekonomi. Masalahnya muncul ketika penggunaannya tak terkendali. Ketika waktu tersedot tanpa sadar, produktivitas menurun, dan fokus mudah pecah.

Beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan paparan konten digital yang berlebihan bisa memengaruhi konsentrasi dan kestabilan emosi. Terlalu banyak informasi, terlalu cepat, terlalu sering. Otak tidak selalu punya waktu untuk mencerna.

Konsep kreasi mencoba menawarkan keseimbangan. Bukan memusuhi teknologi, tapi mengatur ulang relasi dengannya.

Dengan terlibat dalam kegiatan kreatif, seseorang tidak hanya mengurangi waktu layar. Ia juga membangun sesuatu—ide, karya, bahkan rasa percaya diri. Ada proses eksplorasi diri yang kadang hilang ketika kita terlalu sibuk membandingkan hidup sendiri dengan potongan hidup orang lain di layar.

Pada akhirnya, yang di tekankan para psikolog bukan sekadar berhenti scrolling. Melainkan mengelola waktu digital dengan sadar. Tahu kapan cukup. Tahu kapan perlu berhenti.

Kreasi, dalam konteks ini, bukan soal menjadi seniman besar. Tapi soal menghidupkan kembali kebiasaan mencipta—sekecil apa pun itu. Karena dari situ, ruang jeda muncul. Dan mungkin, di ruang jeda itulah ketergantungan media sosial bisa perlahan berkurang.