Nasional

Kemensos Fasilitasi Kolaborasi Penerima Bansos dan Kopdes Merah Putih untuk Usaha Kandang Ayam Petelur

liputanmasa.com – Di banyak desa, bantuan sosial biasanya identik dengan beras, uang tunai, atau sembako. Datang, di bagikan, habis. Siklusnya begitu. Tapi kali ini, Kementerian Sosial mencoba mendorong arah yang sedikit berbeda—lebih produktif, katanya.

Lewat skema yang melibatkan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, para penerima bansos di ajak mengelola usaha kandang ayam petelur. Bukan usaha perorangan. Di kelola bersama. Sistemnya kolektif, berbasis koperasi.

Kemensos memfasilitasi bantuan awal berupa kandang dan ayam petelur. Jadi bukan sekadar modal di atas kertas. Ada wujudnya. Ada ternaknya. Tinggal bagaimana pengelolaannya nanti.

Gagasannya sederhana: bansos jangan hanya habis di konsumsi, tapi bisa berputar. Bisa menghasilkan. Dari telur yang di panen setiap hari, ada potensi pemasukan yang sifatnya lebih rutin, lebih berkelanjutan. Setidaknya itu yang ingin di capai.

Pendekatan ini di sebut sebagai bagian dari transformasi bantuan sosial. Dari yang semata konsumtif menjadi produktif. Kata “kemandirian” sering muncul dalam penjelasan program ini. Harapannya, penerima manfaat tidak selamanya bergantung pada bantuan, tapi punya sumber pendapatan sendiri.

Namun usaha ternak bukan perkara gampang. Ada biaya pakan. Ada risiko penyakit. Ada fluktuasi harga telur di pasar. Di titik inilah Kopdes Merah Putih mengambil peran.

Koperasi desa tersebut akan mendampingi pengelolaan usaha—mulai dari manajemen kandang hingga distribusi dan pemasaran telur. Dengan sistem koperasi, kegiatan usaha di harapkan lebih tertata. Lebih transparan juga, karena pengelolaannya kolektif.

Program ini sekaligus di posisikan sebagai bagian dari strategi penguatan ekonomi desa. Tidak hanya membantu individu, tapi menggerakkan ekosistem di tingkat lokal. Kalau berjalan baik, perputaran ekonomi bisa terjadi di dalam desa itu sendiri.

Kemensos menyatakan akan melakukan evaluasi dan pendampingan secara berkala. Artinya, program ini tidak di lepas begitu saja setelah bantuan di berikan. Setidaknya secara konsep.

Pada akhirnya, yang akan menentukan adalah pelaksanaan di lapangan. Apakah kandang-kandang itu benar-benar produktif. Apakah telur yang di hasilkan bisa terserap pasar. Dan apakah keluarga penerima bansos benar-benar merasakan perubahan pendapatan.

Programnya sudah di rancang. Kini tinggal bagaimana ia tumbuh—atau justru berhenti—di desa-desa tempat kandang ayam itu berdiri.