Peristiwa

Jembatan Darurat Desa Tetingi Jadi Andalan, Warga Gayo Lues Lewat Sambil Menahan Cemas

liputanmasa – Pagi datang, orang-orang tetap berangkat. Ke kebun, ke seberang, bawa hasil tani, bawa barang. Di Desa Tetingi, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, urusan seperti itu tidak bisa menunggu jembatan bagus selesai di bangun. Yang ada sekarang cuma jembatan darurat. Itu pun seadanya. Tapi justru itulah yang di pakai tiap hari.

Sejak jembatan utama rusak, warga praktis bergantung pada akses sementara itu. Tidak banyak pilihan. Bahkan nyaris tidak ada. Kalau ingin aktivitas tetap jalan, ya jalur itu yang di lalui.

Kondisinya jelas bukan yang membuat orang tenang. Struktur jembatan darurat tersebut terbatas, sederhana, dan terlihat memang bukan untuk menampung mobilitas yang tinggi. Orang yang melintas harus mengukur langkahnya sendiri. Pelan. Kadang sangat pelan. Apalagi kalau sambil membawa beban.

Ada rasa waswas yang ikut menyeberang bersama mereka. Bukan sesuatu yang di besar-besarkan, tapi memang itu kenyataannya. Warga tahu jembatan itu penting, tapi mereka juga tahu jembatan itu bukan akses yang betul-betul aman untuk di pakai terus-menerus.

Meski begitu, jalur tersebut tetap hidup. Tetap di pakai. Dari sanalah warga menuju kebun. Dari sanalah hasil pertanian di bawa keluar. Dari situ pula kegiatan ekonomi kecil-kecilan tetap bergerak. Jadi kalau jembatan ini di sebut vital, itu bukan istilah berlebihan. Memang begitu adanya.

Masalah lain muncul ketika barang harus di bawa lebih banyak. Kendaraan tidak bisa melintas dengan leluasa. Akibatnya, sebagian warga harus mengangkut barang secara manual. Di pikul, di bawa pelan-pelan, atau di cari cara lain supaya tetap bisa di seberangkan. Lebih lama, lebih berat, dan jelas lebih merepotkan. Tapi rutinitas tetap harus di jalani.

Di desa seperti Tetingi, akses penghubung bukan cuma soal jalan dari satu titik ke titik lain. Itu menyangkut hidup sehari-hari. Soal kebun yang harus di datangi. Soal hasil panen yang perlu di bawa. Soal warga yang tidak mungkin berhenti bergerak hanya karena jembatan permanen belum ada.

Karena itu harapan warga pun sederhana sebenarnya: ada perbaikan yang sungguh-sungguh, atau pembangunan jembatan permanen yang lebih layak. Yang kokoh. Yang bisa di pakai tanpa rasa khawatir tiap kali kaki menapak. Sebab jembatan darurat, seberapa pun membantu, tetaplah darurat. Namanya saja sudah menjelaskan.

Sampai sekarang, warga masih memanfaatkan jalur itu karena memang tak ada alternatif yang lebih aman atau lebih praktis. Mereka menyeberang, menyesuaikan diri dengan keadaan, dan menjalani risiko yang mestinya tidak perlu mereka tanggung terlalu lama.

Desa Tetingi tetap bergerak, tapi dengan tumpuan yang rapuh. Itu inti persoalannya.