Airlangga: Ekonomi Kuartal IV 2025 Masih Tahan Gas, Berkat Suntikan Program Pemerintah
liputanmasa.com – Ekonomi akhir tahun nggak jeblok. Itu dulu poin utamanya.
Airlangga Hartarto—yang masih menjabat sebagai Menko Perekonomian—menyebut program-program pemerintah cukup ampuh menahan laju ekonomi nasional agar tetap stabil di kuartal IV 2025. Kata dia, meski cuaca global lagi nggak bersahabat, Indonesia masih bisa menjaga arah. Tidak stagnan, tidak juga melorot.
Apa resepnya? Stimulus fiskal. Bantuan sosial. Dukungan ke sektor usaha. Intinya, pemerintah banyak bermain di ruang intervensi untuk menahan daya beli tetap hidup dan sektor usaha tidak padam.
“Momentum pertumbuhan harus di jaga,” ujarnya dalam sebuah keterangan belum lama ini.
Ia juga menyebut konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah masih jadi mesin utama. Dua mesin yang konsisten mendukung angka pertumbuhan, meski sektor lain belum tentu mulus.
Tapi bukan cuma itu. Airlangga juga menyodorkan peran investasi dan proyek strategis nasional. Menurutnya, perbaikan iklim investasi pelan-pelan mulai kelihatan hasil. Beberapa proyek besar tetap jalan, meski tantangan tetap banyak.
Yang menarik, ia menyoroti pentingnya koordinasi. Lagi-lagi, antar kementerian dan lembaga. Bukan hal baru, tapi kali ini di tekankan bahwa koordinasi itu bukan hanya formalitas, melainkan harus benar-benar efektif—di lapangan, bukan di rapat saja.
Situasi global? Tentu tetap di awasi. Pemerintah, katanya, siaga terhadap perubahan moneter global dan gejolak geopolitik. Karena semua itu bisa langsung berdampak. Ke ekspor, ke nilai tukar, ke kepercayaan pasar.
Yang di tekankan Airlangga adalah fleksibilitas. Pemerintah tak bisa kaku. Evaluasi harus terus di lakukan. Penyesuaian kebijakan jadi keharusan. Karena kondisi bisa berubah cepat.
Apakah semua ini akan menjamin kuartal IV 2025 jadi pencapaian manis? Tidak juga. Tapi setidaknya, kata Airlangga, kita tidak masuk jurang. Itu sudah cukup penting dalam situasi seperti sekarang.
“Yang kita jaga bukan hanya angka, tapi fondasi. Supaya masuk ke tahun berikutnya, kita punya pijakan yang kokoh,” tegasnya.
Optimisme itu masih ada. Tapi ia tahu betul: dunia usaha, masyarakat, dan pasar—semuanya menunggu bukti, bukan sekadar janji.
