Humaniora

Mengenang Bencana, Meresapi Al-Qur’an

liputanmasa.com – Kemarin, beberapa hal menarik muncul di seputar dunia humaniora. Bukan berita besar memang, tapi cukup untuk mengingatkan kita bahwa membangun bangsa itu tak hanya soal jalan tol atau angka PDB. Kadang, justru yang kecil dan tak terlihat yang menyentuh inti dari siapa kita sebenarnya.

Tentang Arsip dan Ingatan

Ada satu hal yang cukup menempel di kepala—tentang arsip bencana. Di luar sana, ada banyak catatan—tertulis, terdokumentasi, bahkan dalam bentuk rekaman video—yang perlahan hilang, tercecer, atau sekadar di kunci dalam lemari tanpa pernah di buka lagi. Padahal, dari situlah kita seharusnya belajar. Apa yang pernah terjadi. Apa yang bisa kita hindari.

Arsip, dalam konteks ini, bukan cuma tumpukan kertas. Ia adalah ingatan bersama. Sesuatu yang bisa jadi acuan saat harus merumuskan ulang cara kita bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Al-Qur’an dan Upaya Memahami Lebih Dalam

Di sisi lain, ada juga upaya yang senyap tapi penting: memperkuat literasi Al-Qur’an. Tapi bukan sekadar belajar tajwid atau melancarkan bacaan. Ini lebih dalam. Menyentuh pemahaman. Mendorong penghayatan. Dan ujungnya: penerapan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Pelan, tapi terasa. Karena hidup tak melulu tentang pengetahuan, tapi juga kebijaksanaan.

Menariknya, gerakan ini muncul bukan dari atas ke bawah, tapi banyak dari komunitas, dari pengajar-pengajar yang konsisten, dari ruang-ruang kecil yang tak terjamah headline.

Pembangunan Bukan Melulu Fisik

Kalau di pikir-pikir, dua hal ini—arsip bencana dan literasi Al-Qur’an—mungkin terdengar jauh. Tapi sebenarnya tidak. Keduanya berbicara soal membangun manusia. Bukan jalan. Bukan gedung. Tapi yang hidup di dalamnya: kita.

Pembangunan manusia bukan sekadar soal angka IPM atau kurikulum. Tapi tentang bagaimana masyarakat bisa belajar dari luka, dan berjalan dengan nilai. Di sanalah peran humaniora yang sering kali tak tampak, tapi mendalam.