Peristiwa

Festival Qintong 2026: Lautan Perahu Warna-warni Hidupkan Danau Qinhu

liputanmasa – Dari ketinggian drone, permukaan danau itu terlihat padat—tak oleh eceng gondok, melainkan ratusan perahu hias. Sebagian di selimuti lampion merah, sebagian lagi di pagari payung sutra, semuanya meluncur pelan seperti keping mozaik raksasa yang baru di susun. Inilah detik paling di tunggu Festival Qintong, tradisi yang setiap tahun memutar ulang kisah perahu dan air di jantung Jiangsu.

Penonton di darat menerka-nerka formasi apa yang bakal tercipta. Tiba-tiba deret perahu kuning bergeser ke kiri, barisan hijau merapat, lalu kapten kapal kecil di ujung memberi aba-aba. Dalam beberapa detik, permukaan danau berubah menjadi pola “S” raksasa—rapi, padat, tetapi tetap bergelombang karena ombak kecil menggoda lambung perahu.

Di atas geladak, pemain genderang memukul irama, penari membawa kipas, anak-anak melambai ke kamera drone sambil tertawa—sebagian hampir kehilangan keseimbangan. Tradisi? Tentu. Panggung? Lebih tepatnya teater mengambang. Setiap keluarga di desa sekitar mewarisi cerita tentang leluhur nelayan yang dulu berpawai mengantar musim panen ikan; kini cerita itu di kemas ulang, di siram lampu LED, siap di kirim ke linimasa global.

Festival bukan cuma soal pemandangan fotogenik. UMKM mendadak sibuk: warung mi, penjual teh bunga, pembuat mainan bambu kebanjiran tamu. Hotel di kota terdekat penuh; pengemudi taksi menolak tidur siang. Pemerintah daerah tersenyum—wisata budaya terbukti masih ampuh memanggil dompet pelancong.

Begitu matahari turun, lampion menyala, refleksinya menari di gelombang. Satu per satu perahu menepi, membawa sisa tabuhan dan tawa ke dermaga. Festival selesai hari itu, tetapi gambar laut perahu berwarna sudah telanjur tersebar, menuntut rasa ingin tahu. Dan tahun depan, bisa di tebak, keramaian akan kembali—mungkin lebih padat, mungkin lebih gemerlap—karena Danau Qinhu seolah tak pernah kehabisan cara bercerita lewat air.