Hadiri Bukber Serikat Buruh, Kapolri Tekankan Penguatan Silaturahmi
liputanmasa.com – Suasana menjelang magrib itu terasa berbeda. Bukan di kantor, bukan di ruang rapat resmi, melainkan di acara buka puasa bersama yang digelar serikat buruh. Di tengah aroma takjil dan percakapan ringan, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, hadir. Duduk, menyapa, berbincang.
Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar agenda seremonial Ramadan. Tapi di balik itu, ada pesan yang ingin di tegaskan.
Kapolri menyebut silaturahmi sebagai kunci. Kata yang terdengar sederhana, bahkan klise. Namun dalam konteks hubungan antara aparat penegak hukum dan kalangan buruh—yang tak jarang di warnai dinamika, bahkan gesekan—silaturahmi punya makna lebih dalam. Ia bicara soal jarak yang di persempit. Soal komunikasi yang tidak hanya formal dan kaku.
Dalam sambutannya, Listyo Sigit menekankan pentingnya ruang dialog yang terbuka. Menurutnya, keamanan dan ketertiban tak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari komunikasi. Dari kesediaan mendengar. Dari kesadaran bahwa setiap aspirasi, selama di sampaikan sesuai aturan, adalah bagian dari demokrasi.
Ia juga mengingatkan agar berbagai persoalan ketenagakerjaan di respons melalui jalur dialog. Bukan dengan saling menutup diri. Bukan dengan memperlebar jurang. Penyampaian aspirasi yang tertib, katanya, justru memperkuat hubungan antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah. Tiga pihak yang sering kali berada di meja yang sama, meski dengan kepentingan berbeda.
Acara itu sendiri berlangsung cair. Tak ada sekat podium yang terlalu formal. Perwakilan pekerja dari berbagai organisasi hadir, duduk berdekatan, berbincang langsung dengan jajaran kepolisian. Beberapa isu ketenagakerjaan ikut mengemuka, di bahas dalam suasana yang lebih santai. Tidak tegang. Tidak seperti ruang negosiasi.
Perwakilan serikat buruh menyambut positif kehadiran Kapolri. Mereka menilai komunikasi langsung seperti ini penting, apalagi menjelang sejumlah agenda besar yang melibatkan pekerja. Ketika ruang komunikasi dibuka lebih awal, potensi salah paham bisa di tekan. Setidaknya begitu harapannya.
Ramadan, dalam konteks ini, menjadi momentum. Bukan hanya soal berbuka puasa bersama, tetapi tentang membangun kembali jembatan komunikasi. Kapolri berharap kebersamaan semacam ini bisa mempererat persaudaraan sekaligus menjaga stabilitas nasional.
Karena pada akhirnya, hubungan kelembagaan tak hanya di bangun lewat surat resmi atau pertemuan protokoler. Kadang justru di mulai dari meja makan sederhana, dari obrolan singkat sebelum azan magrib berkumandang.
